Tuesday, 26 January 2016

Menarik sekali tema yang diangkat di pekan ke-3 Liga Blogger Indonesia 2015 kali ini yakni “Pasar Tradisional di Daerahku.” Sebagai blogger yang hobby masak sendiri jarang wisata kuliner ke tempat makan, dan lebih memilih bereksplorasi dengan memasak sesuai yang diinginkan. Tentunya tak asing lagi dengan istilah pasar tradisional, karena ini adalah tempat yang biasa saya tuju saat ingin berbelanja keperluan memasak.
Selama tinggal di Jogja maupun di Nganjuk sebagai kampung halaman, pasar tradisional adalah hal biasa yang selalu saya kunjungi. Misalkan saat di Jogja, saat tinggal selama satu tahun di sebuah perumahan di Bokoharjo Prambanan Sleman. Lokasi tempat tinggal saya saat fokus mengerjakan skripsi ini sangat dekat dengan pasar Prambanan yang baru direlokasi di dusun Pelemsari Ds Bokoharjo Kec Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Di sana dijadikan tempat pasar induk sayuran yang ramai 24 jam.
Kemudian sekarang di tempat yang saya huni—Jl  Tridharma, Gendeng, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, DIY—sangat dekat dengan pasar tradisional “Pasar Talok” dan deretan penjual sayuran di pinggir jalan sepanjang jalan sekitaran pasar tersebut. Jadi saking seringnya belaja—sayur  mayur dan bahan makanan sampai—sampai hafal harga bahan pokok sembako yang begitu fluktuatif. Mulai harga telor dari 16 ribu perkilo—biasanya saya sekali beli telor seperempat kilo (isi 4 butir dg harga 4000)—sampai dengan harga 25 ribu perkilo, kemudian harga cabai yang dulu muuahal sampai sekarang murah, dan sebaliknya bawang merah dan sayuran seperti kubis dan wortel yang makin mahal. Ya beginilah balada anak kuliahan yang hobby masak sendiri.

Pasar Talok: tempat tinggal saya sekitar 200 meter dari pasar ini
Kembali ke pasar tradisional di daerah saya. Di Ds Sanggrahan (Perbatasan dengan Ds Ngujung) kec. Gondang, Kabupaten Nganjuk. Rumah saya lumayan dekat dengan pasar tradisional milik desa, sebut saja “Pasar Ngujung” saking tradisionalnya bangunannya bak pasar jaman dulu banget. Bangunannya cuma terdiri dari tiang dan atap genteng yang sudah usang, tapi pasar ini selalu ramai setiap pagi. Setiap pulang sering saya antar ibu ke pasar ini.
Begini sekilas pasar "Desa Ngujung" di dekat rumah (Dokumentasi Pribadi)
Ada satu hal yang menjadi favorit saya dan ponakan-ponakan saya saat pergi ke pasar ini, yaitu jajanan pasarnya. Di pasar ini para penjualnya rata-rata berjualan bahan makanan seperti sayuran, daging, ayam, ikan dan jajanan pasar tradisional. Jajanan tradisional yang ada di pasar ini saya sangat suka dan beragam—mungkin ada yang belum kenal dengan istilahnya—seperti “ireng-ireng”, cenil, puro, lepet, lopis, gethuk, utri, jemblem dan lain-lain, dengan harga 1000 Rupiah per bungkus.

Cenil dkk ditaburi dengan kelapa parut dan gula merah. Segini 1000 rupiah (Dokumentasi Pribadi)
Selain itu juga ada yang menjadi favorit saudara-saudara saya—saat pulang kampung—saat belanja di pasar ini,yaitu sego pecel dengan lauk sayuran pecel, tahu-tempe, rempeyek yang biasanya dibungkus dengan daun pisang, kadang pakai daun jati, ini yang bikin nasi terasa lebih sedap dibandingkan ketika dibungkus dengan kertas minyak atau dimakan langsung di piring. Nasi pecel di sini seporsi harganya 4000 Rupiah. Harga segini tergolong murah—bahkan di warung lainnya di daerah sini ada yang membandrol harga 3500 Rupiah—dibandingkan harga nasi pecel di Jogja yang seporsinya kisaran mulai dari 6000 Rupiah sampai 8000 Rupiah (dari pengalaman pribadi di beberapa warung nasi pecel di Jogja).
Kembali ke pasar, pasar tradisinoal di Desa Ngujung ini tergolong masih ramai setiap pagi. Masyarakat di sini masih sangat antusias dengan eksistensi pasar tradisional di sini di tengah kemajuan zaman dan menjamurnya supermarket dan minimarket, sebut saja alphamaret dan indiamaret (tau maksudnya kan ?) yang seakan-akan ditiap jalan ada. Berbagai penjual ada di sini meskipun masih dominan dengan dagangan segala kebutuhan makanan.  
Ke-eksistensi-an pasar tradisional di kalangan masyarakat sekitar sini dan menjadi tujuan mereka bertrasaksi jual-beli menurut saya ada beberapa alasan :  Pertama,  dalam perspektif ilmu sosial pasar tradisional di sini merupakan salah satu sarana bersosialisasi masyarakat di suatu desa. Tak jarang bahkan kabar yang lagi “hits” di suatu desa itu bermula dari pasar yang kemudian menyebar ke yang lain. Misalkan ada kabar tentang ada pengajian di suatu tempat. Di desa masyarakatnya dominan masih saling kenal meskipun dengan tetangga yang jauh sekalipun, jadi tak heran ketika mereka bertemu di pasar kemudian saling tegur sapa, bercanda dan penuh senyum baik antar penjual dan pembeli maupun antar pembeli dan pembeli lainnya.
Kedua, dalam persperktif ekonomi, bahwa pasar tradisional di sini tergolong menawarkan harga yang relatif murah terutama pada harga kebutuhan pangan masyarakat dibandingkan dengen pasar modern. Dalam konteks pasar tradisional di Desa saya “Pasar Ngujung” tak jarang petani sayuran tertentu langsung menjual sebagian hasil panenannya di pasar ini, seperti tomat, cabai, bawang merah dll. Hal ini sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak, dari pembeli ia merasa bahwa harga ini murah. Sedangkan dari petani ia juga untung dengan menjual sebagian panenannya ia jual ke pengepul yang nanti di jual lagi di pasar induk.
Ketiga, dari sisi lokasi pasar yang strategis, karena pasar tersebut adalah satu-satunya tempat terdekat untuk berbelanja dibandingkan pasar tradisional di kecamatan yang jaraknya kira-kira 8 KM dari desa, itu pun ramainya saat pasaran—pon, wage, kliwon, legi, paing—tertentu yakni tiap “pon” 5 hari sekali.
Keempat, dari perspektif yang di jual di pasar ini menjajakan panganan yang banyak menarik perhatian, seperti jajanan pasar yang menjadi daya tarik anak-anak di sini.  Dalam perspektif pandangan perantau seperti saya dan kakak-kakak saya yang tinggal di luar Nganjuk satu hal yang sering tak terlupakan saat di pasar ini yakni “Sego Pecel” dan segala jajananya terutama cenil dkk.
Ada satu lagi yang tak dijumpai di pasar-pasar tradisional di Nganjuk kecuali ada di 2 pasar, yakni di pasar “pon” di kecamatan Gondang (daerah saya) dan pasar “Kliwon” di kecamatan Rejoso. Jajanan ini disebut dengan DUMBLEG

penampakan dumbleg secara utuh. Sumber: IG Nganjukkotabayu
Dumbleg adalah makanan khas Nganjuk yang ada cuman di kec. Gondang dan Rejoso terbuat dari adonan tepung beras yang dicampur gula jawa dll. di bungkus dengan pelepah pinang.  Mirip pudak khas Gresik (mirip lho ya tapi tetep beda). Makanan ini cuman tahan sehari karena tidak menggunakan bahan pengawet kecuali kalo disimpen di alat pendingin maka dari itu susah sekali dijadikan oleh-oleh ketika bepergian jauh, mau tidak mau berkunjunglah ke Nganjuk, di samping itu makanan ini cuma bisa di jumpai di dua pasar aja diantara 20 kecamatan di Nganjuk.

Dumbleg Jajanan pasar tradisional khas Nganjuk. Photo by @its4ndik IG via IG Nganjukkotabayu
Berikut tulisan mengenai eksistensi pasar tradisional di daerahku.
Bagaimana pendapatmu tentang pasar tradisional ini ?

Bagaimana di daerahmu ? 

56 comments:

  1. Pasar tradisional itu kulinernya unik dan murah.
    Kalo saya? Silahkan berkunjung ke http //hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    @guru5seni8

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, murah dan unik :) musti di jaga dan dilestarikan budaya belanja di pasar tradisional

      Delete
  2. Dumblek di pasar gondang juga ada mas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yups, di pasar gondang dan pasar rejoso. :)

      Delete
  3. Dumblek di pasar gondang juga ada mas...

    ReplyDelete
  4. aa makanannya enak.. wah, jadi mas adib nih hobi masak? cie, berarti sudah banyak resep yang dikuasai, dong?
    nasi pecel seporsi 4000 di sana isinya berapa banyak, mas?
    apakah pasar nganjuk terletak di pusat kota, atau bagaimana?
    berarti di pasar nganjuk itu di dalamnya bisa kita temui banyak penjual nasi pecel?
    saya jadi pengen nyoba dumblegnya, deh.
    salam, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. enggak banyak kok. beberapa sudah pernah aku tulis di blog.
      nasih pecel di sini lumayan banyak sebungkus udah bikin kenyang, isinya: Nasi, sayur pecelnya beragam : kangkung, kacang, tauge, kenikir, kemangi dll. di kasih sambal kacang, tempe goreng dan rempeyek. :)

      Pasar Nganjuk ada sendiri beda dengan yang saya tulis ini pasar desa saya. pasar Nganjuk terkenal dengan pasar Wage, karena ramai saat wage, terletak di tengah kota Nganjuk, pasar ini lumayan besar dan luas dengan barang jualan yang beragam. di dalam pasar Nganjuk kalau pagi pasti ada kok penjual nasi pecel, kalo malam - pagi juga ada di depan pasar dan sepanjang jalan A yani. berjajar penjual nasi pecel. rata-rata harga per porsi sekitar 4000an

      monggo ke Nganjuk ke pasar Gondang kalo ingin nyoba dumbleg nya hehe

      Delete
    2. Wah, banyak juga ya isinya. Kayak pecel madiun ga sih, pakai rempeyek?
      Itu tempenya satu paket sama pecel jadi harganya Rp 4000,-? Wow.
      Hmm.. Iya. :)

      Delete
    3. iya satu paket. di jawa timur nasi pecel biasanya sepasang dengan rempeyek kadang ditambah krupuk juga. Kenyang mah pokoknya :D

      Delete
  5. utri tuh saya kenal ya sejak di madiun. bakulnya udah sepuh. keliling bawa gethuk. pernah juga bawa sate nol-dua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe sama disini rata-rata yang jual jajanan seperti itu orang tua semua mbak.

      wew sate NOL-DUA saya gak pernah makan. kalo sate keong boleh, di angkringan di jogja banyak. hehe

      Delete
  6. Wah...cenil itu kayaknya enak. Apalagi kalo disuguhkan dengan kelepon..:-) @ge1212y

    ReplyDelete
  7. seru y mas,, bisa masak sendiri,, hahaha saya gk pande masak nih,, Oh iya jajanan pasarnya unik belum pernah liat gituan di Medan, semoga bisa juga deh jalan-jalan ke jawa. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mari bang dolan ke jawa, dolan ke "pajak" di jawa, ga cuma jalan-jalan ke "pasar(bhs medan)" saja hehe

      Delete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. wah.. aku taunya cuma pecel dan cenil saja mas, yang lainnya belum pernah makan :)

    @QuelleIdee07

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe semoga suatu saat bisa nyoba ya... hehe atau nyari resepnya coba bikin sendiri :)

      Delete
  10. Temenku pernah bawa dumbeg dia anak Nganjuk aku nyoba enak juga :D

    @umimarfa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe alhamdulillah... saya sudah jarang makan dumbleg, dulu waktu SD sering banget dibawain mbah kalo pulang dari pasar hehe

      Delete
  11. wah mantap banget mas pasar tradisonal, ramai dan banyak jajanan khasnya =p~

    ReplyDelete
  12. sepertinya kalau dilihat dari foto pasarnya bersih dan rapi gitu ya? waah jajanannya bikin ngiler. bagi dumblegnya dong hehehe

    @gemaulani

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah menurut saya pribadi pasar ini walaupun sederhana tapi tergolong bersih dan rapi,

      mau dumbleg? sini dong... :D :D :D

      Delete
  13. Aku penasaran lho makan Dumbleg
    Di Kertosono nggak ada, cuma di Pasar Pon daerah Warujayeng (jauh banget)
    Kirim-kirim dunk ^_^

    @amma_chemist

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah pengen sih ngirim. tapi ga tau alamatnya mbak di Kertosono. huhu..

      Delete
  14. Dumbegnya mirip pudak banget.. Kalau Dumbeg di tempatku bentuknya kerucut memanjang, bungkusnya pun pakai daun kelapa.. Tapi kalau bahannya kayaknya sama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mirip pudak tapi rasanya beda, saya sering makan pudak dulu kalo temen dari gresik balik ke jogja, pudak lebih padet dan kering jadi tahan satu sampai 2 hari, kalau ini lebih empuk dan cuma bertahan sehari.

      Delete
  15. Wah, unik banget keliatannya kondisi pasar mirip-mirip kaya bangunan yg di film-film laga, Dumbleg nya keliatan menggiurkan :d

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul banget, bangunannya kaya pasar jaman duluuuuuuu kala. cuma tiang-tiang yang beratap dan beralaskan tanah mbak. untuknya ga pernah banjir jadi ga becek. :)

      Delete
  16. aku juga suka banget cari jajanan tradisional kalo ke pasar
    rasanya nggak kalah ama kue2 modern =p~

    ReplyDelete
  17. Iyaa yaa, pasarnya bersih banget.

    Mz, penasaran sama ini sih kalau saya : itu pun ramainya saat pasaran—pon, wage, kliwon, legi, paing—tertentu yakni tiap “pon” 5 hari sekali.

    Kenapa harus saat "pon" ramainya ?? Kebiasaan kah ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. pon wage kliwon dst itu adalah sistem hari di jawa, yang mempunyai hari cuma ada 5. biasanya pasar di sini, ramainya di salah satu hari dari 5 hari tersebut, misalkan di pasar kecamatan Gondang saat pon. jadi setiap pon pasar ini penuh sekali. kemudian di kecamatan Rejoso saat kliwon, dan di kota Nganjuk saat wage. sehingga di sana ramai saat pasaran tersebut. itu sudah kesepakatan masyarakat di situ ramai setiap pon begitu juga di pasar lainnya.:)

      Delete
  18. DUmbleg itu kayak jenang atau papais ya? yang beda cuma bungkusnya aja. Hihi

    :d :d :d

    ReplyDelete
    Replies
    1. mirip, tapi cara masaknya beda sekali dengan jenang. ini semacam adonannya di kukus dalam bungkus pelepah pinang hehe.. kalau jenang biasanya direbus di wajan gede sampai menjadi adonan :)

      Delete
  19. Di Pasar tradisional itu enak, kalau beli maem nggak pake nawar karena sudah murah hahahhah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kalo maem aku ga pernah nawar :D

      Delete
  20. What? Cenil seribu? Di Jakarta ga dapet. *hiks... anak2 biasa beli 3000 paling murah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe mungkin karena faktor tempat dan bahan baku yang masih terjangkau :)

      Delete
  21. Aku paling suka jajanan beras gitu (awug). Di Medan yang kayak gitu banyakan di tempat sarapan pagi kayak penjual lontong. Kalo di pasar udah jarang banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah aku ga paham apa itu "awug" nanti tak coba searching apa itu awug. :)

      Delete
  22. wah ada lepet sama lopis,, cemilan kaporit gua itu mahh haha :D
    @aleksdejavu

    ReplyDelete
  23. Weleh, dadi kepengen si Dumbleg...tau gitu minggu kemarin mampir ke Gondang/Rejoso nih :D

    @Wawa_eN

    ReplyDelete
    Replies
    1. wew, habis lewat nganjuk ya? dari mana emang? :D

      Delete
    2. Gak sekedar lewat lho...aku ke Baron, deket stasiun :)

      Delete
    3. wahaha.. mbaron toh.. mbaron-kertosono-warujayeng gudangnya blogger handal di Nganjuk. wehehehe.... Rozak, Roziq dkk. Aku sering ke Mbaron juga tapi pasar ke utara. :D

      Delete
  24. wah... jadi pengen cepet ke nganjuk... ^_^

    ReplyDelete
  25. Di daerahku asal, di depan pasar babat ada dua toko modern. agak ke selatan sedikit, ada lagi dua toko modern.

    Sedangkan di kecamatan tempat tinggalku, di kedungpring, sudah ada 2 toko modern dekat pasar tradisional.

    Semoga pasar tradisional tetap berjaya meski keberadaan toko modern sptnya semakin mengkuatirkan.

    @ririekayan

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe ga jarang saya juga melihat fenomena yang sama mbak...

      Delete
  26. penjelajah pasar ternyata. ga minat buka lapak di pasar? hehe

    @f_nugroho

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada, tapi ga di pasarnya. di sekitar pasar pengen buat jajanan ntar dititipin di penjual jajan di sekitar "pasar talok" di Jogja tempat saya tinggal sekarang. :D doakan segera terealisasi (p)

      Delete
  27. Keren juga lu, masak sendiri.... ada nggak postingan tentang hasil masakan loe..

    @rizalarz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada. Coba searching di google atau di sini dg kata kunci "ternyata aku pinter masak"

      Delete

terimakasih ^_^